Cryptocurrency: Penantang Baru yang Eksis di Dunia Investasi Digital

Real Sector

Published at: Jul 7, 2021

Mata uang kripto alias cryptocurrency tengah menjadi trend di masyarakat dalam beberapa bulan terakhir. Instrumen ini mulai menjadi instrumen investasi favorit di tanah air dikarenakan nilainya yang terus mengalami lonjakan dalam beberapa bulan terakhir, bahkan melampaui instrumen lain seperti emas hingga saham. Lantas, apa itu cryptocurrency? Cryptocurrency adalah mata uang digital atau virtual yang dijamin oleh kriptografi. Kriptografi sendiri secara harfiah memiliki arti sebagai teknik yang mengubah data menjadi berbeda dari aslinya dengan menggunakan algoritma matematika sehingga orang yang tidak mengetahui kuncinya tidak akan dapat membongkar data tersebut. Dalam penggunaannya, hampir tidak mungkin untuk melakukan pemalsuan atau penggandaan dalam pembelanjaannya.

Cryptocurrency bekerja menggunakan teknologi bernama “blockchain”, yaitu teknologi terdesentralisasi yang tersebar di banyak komputer yang mengelola dan mencatat transaksi. Teknologi ini mengikat setiap transaksi layaknya rantai yang saling terhubung satu dengan yang lain dan tidak memerlukan pihak ketiga (seperti bank) sebagai perantaranya sehingga setiap kepemilikan dari mata uang digital ini merupakan tanggung jawab setiap pemiliknya.

Cryptocurrency pertama di dunia adalah Bitcoin yang diluncurkan pada tahun 2009. Pada akhir Juni 2021, kapitalisasi pasar Bitcoin ini mencapai nilai sebesar US$591 miliar. Setiap investor cryptocurrency dapat menghasilkan uang melalui investasi ini dengan cara menambang Bitcoin atau hanya dengan menjual Bitcoin mereka untuk mendapatkan keuntungan (Investopedia, 2020). Mekanisme penambangan yang dimaksud yaitu seorang individu menyediakan komputer-komputer canggih untuk menyumbangkan daya komputasi ke jaringan Bitcoin.

Hal ini karena dalam Bitcoin semua transaksi diproses oleh ribuan komputer di seluruh dunia yang terhubung dengan internet. Untuk menutupi biaya yang mereka keluarkan dalam penyediaan alat-alat canggih beserta energinya, mereka akan mendapatkan insentif dalam bentuk Bitcoin baru yang mereka tambang. Lain halnya dengan itu, investor yang hanya ingin menjual dan membeli Bitcoin saja dapat melakukan transaksi cryptocurrency di berbagai aplikasi seperti Binance, Coinbase, Huobi Global, dan lain-lain.

Bagi masyarakat, terkhususnya kaum milenial yang mudah tertarik akan keuntungan yang besar, investasi ini bagaikan oasis di tengah gurun, terutama pada masa pandemi saat ini. Melemahnya sektor-sektor perekonomian menyebabkan masyarakat berusaha mencari alternatif lain untuk mendapatkan keuntungan, salah satunya dengan menjadi seorang penambang Bitcoin. Hal ini ditunjukkan dari data jumlah bitcoin sebesar 18,6 juta BTC telah beredar atau 88,57% dari jumlah maksimum sebesar 21 juta BTC. Saat ini, ditaksir terdapat 900 BTC yang ditambang setiap harinya.

Tercatat pada Mei 2021, nilai transaksi crypto di Indonesia mencapai Rp1,7 triliun dalam jangka waktu satu hari. Tren yang semakin meningkat ini tak luput dari kesadaran masyarakat, terkhususnya kaum milenial untuk berinvestasi sejak tahun lalu. Mudahnya mendapatkan sumber edukasi mengenai investasi membuat masyarakat mengenal dan mengetahui saham, reksa dana, dan sekarang mulai melihat peluang besar di cryptocurrency.

Melihat tren ini, pemerintah Indonesia dalam hal ini Bank Indonesia, melalui Direktur Eksekutif Kepala Departemen Hukum BI, Rosalia Suci Handayani telah memberikan pernyataan bahwa mata uang digital atau crypto, tidak akan bisa menjadi mata uang sah (legal tender) di Indonesia setidaknya hingga puluhan tahun ke depan. Hal ini disebabkan karena crypto masih sulit memenuhi syarat dan kriteria untuk menjadi legal tender. Akan tetapi dari segi investasi, cryptocurrency tidak dilarang karena minat masyarakat terhadap investasi ini juga sangat tinggi. Tercatat, jumlah investor cryptocurrency sudah menembus angka 6,5 juta orang di Indonesia.

Walaupun pemerintah tidak dapat mengintervensi mengenai harga dari setiap cryptocurrency, tetapi tetap dibutuhkan badan pemerintah yang meregulasi transaksi crypto di Indonesia. Wewenang itu diberikan kepada Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dengan alasan untuk memberikan kepastian usaha, melindungi masyarakat, dan mencegah penyalahgunaan perdagangan aset crypto sebagai sarana tindak pidana pencucian uang.

Hingga kini, terdapat 229 cryptocurrency yang sudah mendapatkan izin legal dari pemerintah. Sepuluh diantaranya ialah Bitcoin, Ethereum, Tether, Xrp/Ripple, Bitcoin Cash, Binance Coin, Polkadot, Lightcoin, Bitcoin sv, dan Litecoin. Selain itu, banyak juga aplikasi crypto yang dapat digunakan di Indonesia dan sudah mendapatkan izin legal dari Bappebti, tiga di antaranya Indodax, Rekeningku, dan TokoCrypto. Langkah lain yang lebih serius yang akan dilakukan Bappebti ialah dengan segera meluncurkan bursa crypto. Diproyeksikan, bursa crypto akan mulai beroperasi pada akhir 2021 ini.

Indonesia Economic Outlook 2022