Indonesia Investment Authority (INA): Kelahiran Sovereign Wealth Fund (SWF) di Indonesia

Real Sector

Published at: Jul 28, 2021

Pada akhir Desember tahun lalu, Indonesia mengikuti jejak negara-negara yang sukses dengan membentuk Sovereign Wealth Fund (SWF). Hal ini ditandai dengan disahkannya Omnibus Law, SWF Indonesia juga dinyatakan sah di mata hukum. Sebelumnya, apa itu SWF? Menurut Kementerian Keuangan RI, Sovereign Wealth Fund (SWF) adalah kendaraan finansial yang dimiliki oleh negara yang memiliki atau mengatur dana dan menginvestasikannya ke aset-aset yang luas dan beragam.

Dana SWF diperoleh dari 2 macam sumber yaitu hasil sumber daya yang tidak dapat diperbarui (minyak bumi dan gas) dan dana yang berupa aset keuangan seperti saham, obligasi, property, logam mulia, dan instrumen keuangan. Setiap negara memiliki sumber dana yang berbeda-beda bagi SWF-nya. Contoh negara yang sumber dananya mengandalkan SDA yang tidak dapat diperbarui adalah Norwegia, Uni Emirates Arab (UEA), Kuwait, Saudi Arabia, dan Qatar. Sementara itu, untuk negara yang mengandalkan sumber dana dari asset keuangan adalah Singapura, China, Hongkong, Malaysia, dan Indonesia sendiri.

Pada awal Januari 2021, Indonesia membentuk lembaga SWF dengan nama Indonesia Investment Authority (INA). INA ini dibentuk berdasarkan pada amanat UU Nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan diatur melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 tahun 2020 yang terbit pada 14 Desember 2020.Indonesia Investment Authority (INA) sendiri memiliki pengertian sebagai dana pemerintah yang didirikan berdasarkan UU Republik Indonesia untuk mengelola investasi nasional, dengan tujuan khusus untuk membangun kekayaan bagi generasi mendatang dan berkontribusi pada pembangunan ekonomi Indonesia.

Latar belakang didirikannya INA adalah perlunya terobosan bagi Indonesia dalam menarik investasi asing di tengah keterbatasannya pembiayaan pemerintah melalui BUMN dan fiskal dalam membiayai investasi di negara kita. Menurut Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian keuangan,Indonesia sendiri membutuhkan investasi untuk pembangunan infrastruktur dalam periode 2020-2024 sebesar Rp6.445 triliun. Selain itu, dana investasi juga diharapkan dapat memberikan dampak secara langsung pada pertumbuhan ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja. Maka, dengan segala pertimbangan untuk mendorong kemajuan pembangunan bangsa ini, Presiden Jokowi optimis mengenai Indonesia Investment Authority (INA).

Terdapat dua jenis investasi yang dikembangkan INA bagi para investornya nanti, yaitu thematic fund dan master fund. Pada thematic fund, dana akan dikelola berdasarkan bidang atau asset tertentu. Skema pada jenis ini untuk investor yang memiliki appetite risiko dan pilihan asset yang berbeda-beda. Sedangkan pada master fund, skema pada jenis investasi ini dananya berasal dari berbagai negara, yang mana dana-dana ini akan diinvestasikan dan masuk ke perusahaan portfolio, asset, atau proyek pemerintah.

Dilansir dari ina.go.id, sebagai lembaga yang baru berdiri, INA mengelola aset yang dananya disuntikkan oleh pemerintah senilai USD 5 miliar. Sebagai bagian dari strategi dan mandat investasinya, INA bercita-cita dapat berkolaborasi dengan investor yang kredibel baik global dan lokal. Nantinya, bersama investor, INA sendiri akan menargetkan pertumbuhan Asset Under Management (AUM) menjadi USD 20 miliar dalam waktu dekat. Ketua Dewan Direksi INA, Ridha Wirakusumah mengatakan terdapat 9 sektor yang menjadi incaran INA. Namun, di beberapa sektor, pertumbuhannya terlihat lebih berpotensi seiring dengan era new normal pasca pandemi Covid-19.

Oleh karena itu, saat ini INA fokus pada 4 sektor yang terdiri dari infrakstruktur (mencakup airport, seaport, dan jalan tol), infrastruktur digital (digital service dan platform), healthcare, dan renewable energy. Untuk infrastruktur sendiri, sektor ini dianggap akan menjadi sektor andalan dalam waktu dekat karena melihat adanya potensi multiplier effect dari jalan tol, kargo, dan port container pada pertumbuhan ekonomi. Di samping itu, terdapat beberapa sektor lain juga yang sesuai dengan filosofi investasi INA diantaranya waste management, pariwisata, teknologi keuangan (lending, payment, commerce), consumer (consumer health, pharmaceutical, dan FMCG), serta logistik yang mencakup cold-storage, last-mile logistics dan pergudangan.

Seiring perkembangannya, di tahun pertama INA akan fokus kepada perusahaan milik BUMN. Di lain sisi, hadirnya INA juga disambut positif oleh investor lokal seperti BP Jamsostek. Selain itu, investor asing seperti Uni Emirat Arab juga tidak melewatkan peluang berinvestasi di INA. Melihat hal ini, Menteri Keuangan RI Sri Mulyani menyatakan bahwa pemerintah menargetkan INA mampu menarik total investasi sebesar Rp300 triliun.

Melihat keoptimisan pemerintah pada INA, lantas bagaimana keefektifan INA dalam jangka waktu yang belum satu tahun berdiri? Keefektifan INA dapat dilihat dari perannya sebagai jawaban atas kurang mampunya pemerintah dalam membiayai seluruh biaya pembangunan infrastruktur di Indonesia. Walau Indonesia masih terbilang kesulitan mengumpulkan dana SWF karena APBN yang belakangan ini selalu defisit, tetapi Indonesia tercatat sebagai salah satu negara tujuan investasi negara-negara raksasa SWF.

Selain itu, INA juga disambut baik oleh IFSWF (International Forum of Sovereign Wealth Funds) sebagai anggota baru asosiasi ini. Akan tetapi, disamping itu semua, terdapat beberapa hal yang juga harus diperhatikan pemerintah. Perekrutan pimpinan dari INA, tanggung jawab manajemen yang tidak hanya mengejar “return” saja, serta transparansi, akuntabilitas dan governance mengenai keuangan INA merupakan hal-hal yang harus dipertimbangkan. Jika pemerintah tidak abai akan hal-hal ini, dapat diharapkan bahwa tujuan awal terbentuknya INA dapat tercapai.

Indonesia Economic Outlook 2022